Minggu, 23 Oktober 2011

Menutup Jendela Mimpi


Diari 1

“Hallo!! Asti!”.
“Mas Adi ya?..( sambil tersenyum bahagia)
“Iya. Kamu kira  siapa? Cowoknya ya?”
“Enggak..suaranya khas banget jadi pasti udah ketauan siapa ini”
“O..gitu..mm…bisa gak temenin mas Adi ke kampus besok”.mas Adi mau urus persiapan wisuda nanti, ambil Toga maksudnya”.
“BISA!! Kog! ( tanpa mikir)
“Yaaa…udah..bener kamu gak ada acara besok, soalnya besok kan malam minggu..heee”
“Gak ada acara koq mas “( ..senyum lagi)
“Besok jam 9 pagi mas kesini, udah siap ya?...
“Iya deh mas”…

Malam ini pastinya aku gak bisa tidur, besok pake baju apa ya,buat ke kampusnya mas Adi, tapi koq tumben mas adi ajak aku..ada apa ya? Biasanya juga Cuma maen kerumah, ngobrol,  terus pulang, ya…tetangga satu ini memang misterius, tapi sayangnya aku terlanjur suka, mungkinkah mas adi juga mengagumiku?...tanda tanya besar…gak usah dipikirin deh karena dia juga gak mikirin itu pastinya.


Diari 2

“Assalamualaikum”…
“Waalaikum salam” O ..Adi..cari Asti ya…
“Iya mbk..aku mau ajak ke kampus boleh ya?..temenin ambil Toga”
‘Kamu udah selesai ya?..wah gak terasa ya kamu udah mau wisuda aja, rasanya baru kemaren kamu masuk kuliah, …selamat ya di”
“Hai” aku udah siap koq (Asti terlihat berbunga bunga)..
“Asti, Adi…kalian hati hati ya…kakak titip Asti ya di….
“Makasih kak Ayu.” ( senyuman adi baru terlihat manis sekali)

Perjalanan saat itu begitu menyenangkan, aku tak bisa menggambarkan berapa harga kebahagiaan yang kudapat saat itu, mungkin tak dapat diukur dengan rupiah yang jelas Trimakasih Tuhan untuk  kesempatan langka ini.
Sepanjang perjalanan Mas adi hanya tersenyum kalau melihat aku, saat itu aku juga bingung harus ngomong apa, sesekali kulihat wajah polosnya ia Cuma tersenyum lagi, paling keren hanya mengangkat kedua alisnya...tapi gak apa deh…walaupun gak ada yang istimewa dari perjalanan ini aku sudah cukup bahagia koq.

Di kampus Mas Adi
           
           Akhirnya kami sampai juga, walaupun Cuma naik angkot buat aku ini adalah hari yang paling istimewa.
“Mas Adi!! Tunggu!!” aku berlari kecil mendekatinya yang jalan sangat cepat sekali,kesel juga sih..masa aku ditinggalin, tapi ternyata itu ulah jahilnya yang sengaja membuat aku ngambek.
“Mas koq tinggalin Asti sih!” ( cemberut)
“Nggak tinggalin koq, mas Adi Cuma jalannya lebih cepat dari Asti” wajah jahilnya terlihat lagi sambil tersenyum mas Adi menghentikan langkahnya.
“Kamu laper, mau makan gak?” ayo mumpung ada yang nawarin nich!”
Aku Cuma mengangguk, gak ada basa basi mas Adi langsung menarik tanganku ke pondok bakso disamping kampusnya, hampir aja aku terjatuh karena kagetnya.
“Kamu pesen aja,  tar mas adi kesini lagi ya.”sambil mendekati abang bakso mas adi memberi isyarat agar aku tunggu sebentar
“Mas Adi mau kemana?, aku koq sendirian ( bingung)
“Gak, Cuma sebentar koq, tunggu ya?” sambil berlari ia meninggalkanku.
            Aku benar benar bingung apa maksudnya mengajak aku ke kampusnya  tapi aku koq ditinggalin sendiri, gak apa deh aku pesen makanan aja, lagian perutku udah gak bisa diajak kompromi, aku hanya bengong menunggu sampai pesananku selesai.
oooo0000oooo
“Weeitss..Adi bawa cewe lho!..siapa tuh di.” Tiba tiba segerombolan teman-temannya heboh melihat kedatangan kami berdua, namun mas Adi tetap santai tanpa komentar Cuma tersenyum lagi lagi sambil mengangkat kedua alisnya, tapi itu ekspresinya yang paling aku suka karena saat itu matanya yang sipit terlihat lebih belok.
“gaklah..ini adik sepupuku dari kampung, daripada bengong dirumah aku ajak aja kesini!” jawabnya sambil merogoh lembaran kertas dari ranselnya.
Aku bengong dan bingung mendengar jawaban mas Adi, ternyata benar mas adi hanya menganggapku adiknya saja, ternyata aku berharap terlalu tinggi buat persahabatan ini, tapi jika memang benar aku juga terima, walau hari itu sekuat tenaga aku memposisikan diri seperti yang diharapkan mas Adi saat itu.
Tapi untuk apa Ia selalu datang menemuiku dirumah, menceritakan semua permasalahannya dan juga harapan harapanya, walau aku hanya pendengar setia, paling hanya bisa tersenyum dan berkata sabar dan sabar, tanpa bisa membantu apa apa, ia gak pernah bosan untuk selalu bercerita apasaja denganku.Tapi, mengapa juga ia selalu menatapku lama tanpa ekspresi apapun, namun kurasakan keteduhan hatinya saat itu…sesuatu yang tak bisa kukatakan dan kuterka kembali karena hanya jiwa rapuh ini yang sanggup menguraikannya dan mungkin hanya waktu yang dapat menjawab semuanya.
0000ooo0000

Diari 3

“Tuhan”..
Jika kau ciptakan hati buat mencintai…
Ajarkan aku mencintai dengan benar..
Agar aku memahami setiap pesan yang Engkau titipkan…
Agar aku memahami setiap sinyal yang Engkau kirimkan..
Agar aku memahami kemana ia akan kuletakkan..
Karena Aku selalu berusaha mencintai apa yang Engkau cintai Tuhanku..
Dan jangan kau biarkan aku mncintai sesuatu melebihi dari cintaku padaMu Tuhanku…

“Asti…..”kakak memanggilku
“Ya kak, sebentar” aku segera merapikan catatan puisiku..sambil bergegas kebawah menemui kakaku.
“Ada apa kak?”
“Adi didepan tuh!’..

“Mas Adi” ( Asti tersenyum bahagia)
“kamu belum  mau tidur kan, ini juga  belom terlalu malam kan,  kalau aku main kesini ”
“Yaelah….kayak  rumah diujung kulon aja, gak apa mas, aku juga gak ada kuliah besok”.
“Hmm…syukurlah…aku Cuma ngerasa tenang aja kalau maen kesini, aku juga gak tau kenapa aku bisa nyaman cerita apa saja sama kamu, jadi sory ya Asti kalau cerita mas nambah nambahin pikiran kamu’.
“Gak aku pikirin koq” ( sok cuek)
“Hmm..masa..( Mas Adi mengerutkan keningnya)
“Kasian ..Mas Adi aku cuekin ya...” akhirnya kami tertawa berdua dan suasana itupun kembali lagi, dimana ada satu ketenangan dan rasa aman dan juga nyaman ketika kita bertemu, aku juga gak tau apa namanya  itu, yang jelas aku juga melihat hal yang sama pada Mas Adi hanya mungkin ia pintar untuk menyembunyikan perasaannya itu, entah kenapa, namun biarkan saja, dan aku tetap membiarkan semuanya apa adanya, karena aku hanya ingin selalu melihat senyum diwajahnya.
“Asti besok mas Adi dapat panggilan kerja buat interview, doakan mas Adi ya..supaya bisa diterima kerja, mas Adi pengen banget buktiin ke mama kalau mas Adi bisa diandalkan, gak minta duit terus ke mama”.
“Iya mas pasti Asti doain buat Mas Adi”tapi kalau udah kerja traktir ya? Heee” (nyengir)
Mas Adi hanya tersenyum dan senyumnya manies sekali…


Diari 4

“Pergi dulu ya kak”
“Asti!, kamu gak sarapan”
“Gak kak, aku puasa” kak Ayu mengerutkan keningnya
“Puasa apa Asti?’
“Puasa sunah senin kamis kak”
memang aku sudah lama gak melaksanakan puasa senin kamis lagi, tapi kali ini sebenarnya lebih special, karena aku ingin doaku diijabah Allah agar Mas Adi hari ini diterima kerja, amien..semoga ya Allah…..
Adi begitu special dimataku, dan aku ingin memberikan yang terbaik buatnya walau aku tak dapat mengukur berapa besar hati yang dimilikinya buatku, itu bukan ukuran untuk sebuah pengorbanan, bukankah cinta adalah sebuah pengorbanan yang tanpa dapat diukur berapa banyak pengorbanan itu diberikan.
Aku juga tidak bisa mengerti mengapa Tuhan membuka begitu besar ruang dihatiku ini buat menempati   hatinya, dan begitu dekatnya hingga aku selalu bisa merasakan sebelum ia mengatakan apa yang ia rasakan….luar biasa perasaan yang Tuhan anugrahkan buatnya.


Diari 5.
        
            Panas sekali siang ini aku masih duduk dilobby kampus…karena jarak rumah kakakku dan kampusku  jauh sekali makanya  aku rasanya berat sekali melangkahkan kaki ini untuk pulang, mungkin karena hari ini aku puasa jadi kondisiku lebih lelah dari biasanya.Mataku tak hentinya mengawasi kalau kalau masih ada temanku yang berada di kampus ini, buat menemaniku ngobrol sambil menunggu waktu berlalu lebih lama lagi.
            Entah kenapa aku malas  sekali untuk pulang hari ini..padahal hari ini aku ingin memberikan kado kecil buat ulang tahunnya mas adi.kulihat jam ditanganku menunjukkan pukul 2 siang, aku memutuskan untuk pulang karena kelihatannya kampusku makin sepi.aja .dan teman temanku sudah tidak banyak yang beredar di kampus, lagian aku harus mempersiapkan bahan buat Presentasi besok.
            Akhirnya tak terasa langkah ini semakin dekat rumah kakakku, langit yang tadinya panas tiba tiba mendadak gelap tertutup awan.kelihatannya mau turun hujan.Hmm dari kejauhan tampak rumah mas adi kelihatan lebih ramai dari biasanya, aku semakin penasaran kuamati ada acara apa dirumah mas adi?...
Aku semakin penasaran kutahan langkahku agar lebih pelan biar aku banyak melihat kejadian yang terjadi depanku.Tak berapa lama gerimispun turun tapi aku tak peduli aku semakin lambat dan akhirnya aku berhenti,rasanya aku tak ingin melangkah lagi..kakiku seakan lumpuh dan tiba tiba badanku mendadak lemas, aku melihat pemandangan yang sangat memukul hatiku, walau aku tak yakin namun aku sudah mengerti  jawabannya.
            Mas adi tampak begitu tergesa gesa membuka payung dan merangkul seorang wanita cantik keluar dari rumahnya, sepertinya mas adi akan mengantarkan wanita itu keluar rumahnya.Saat itu aku seperti melayang…aku tak tau apa sebenarnya yang aku pikirkan selama ini, terlalu berharapkah aku pada mas adi…
Aku marah, tapi pada siapa?, mas adi tidak menjanjikan apa apa padaku, aku kecewa…tapi apa yang kukecewakan..karena selama ini mas adi tak pernah mengatakan apa apa padaku…akhirnya…aku kuatkan hati buat melangkah kembali, walau tak terasa air mata ini turun membasahi mukaku bersamaan rintik hujan yang semakin deras.

Diari 6
 
         Pagi ini seperti biasa semua terlihat hampa, kutatap tiap sudut kamar yang sepi dan berdebu, sama seperti sebongkah hati yang semakin berdebu tiap harinya.2 hari aku mengurung diri, telephon berdering dari mas adi beberapa kali kutolak, entah kenapa aku seperti orang yang patah hati,padahal aku tahu bahwa diantara kami hanya ada sebuah persahabatan dan aku yang terjebak oleh persahabatan itu.Aku menjauhi diri dari Tuhan aku kecewa kenapa Tuhan membiarkan ketulusan ini disakiti…..namun aku segera menyadarinya semuanya sia sia jika hanya membuatku putus asa, aku harus membangun mimpiku kembali….dan semuanya tidak berakhir sampai disini.
"Tuhan...masihkah Engkau memaafkanku atas kelalaian selama ini,mengapa aku justru menjauhimu Tuhan".
"Aku janji Tuhan, aku akan ikuti apa yang Engkau ingin aku lakukan,"airmataku jatuh lagi, namun kali ini ada sedikit ketegaran, karena Tuhan kini bersamaku.

     "Apayang kamu cari Asti?...bukankah kamu sudah berjanji buat memulai semuanya dengan ikhlas.?" mengapa masih ada gelisah yang membakar ketenanganmu?...aku mulai menenangkan diriku sendiri...
tapi, sulit sekali?..seharusnya kau sudah bisa tenang hari ini, bukankah aku dapat tugas presentasi mengenai Pemasaran Hari ini...susah payah aku menyusunnya, mungkinkah semuanya gagal hanya karena perasaan yang kacau hari ini?.
     Mungkin kecewa itu masih membekas, rasanya tak mudah membolak balikkan hati ini dalam sekejap, walaupun semua terlihat memilukan tetap saja hatiku tak berubah sedikitpun.
Kejadian saat itu membuat aku kaget sekali, mata ini seperti tak percaya, mungkinkah aku bermimpi?tapi tetap saja itu adalah kenyataan yang menyadarkan aku, ternyata hati ini ...perasaan ini....hanya aku yang memilikinya...bukan dia.....
     Kuingat kembali kejadian demi kejadian yang selama ini kita lalui....aku baru menyadari tak pernah sepatah katapun ia mengucapkan cinta atau apapun mengenai perasaannya...tapi mengapa aku  seolah telah memilikinya, entah kekuatan apa yang membuat aku merasa begitu dekatnya, hanya Engkau yang menciptakan hati ini ya Tuhan yang mengetahui rahasia dibalik dinding qalbu ini.
Berarti memang tidak salah kalau pertemuan kemarin aku melihatnya bersama wanita dan terlihat mesra sekali, itu mungkin teman wanita spesialnya dan aku hanya teman biasa.
Tak terasa air mata ini jatuh kembali ternyata tak mudah menyimpan beban hati yang tak jelas arahnya.Apakah perasaan ini tulus ataukah hanya sementara, tapi benar atau tidak yang pasti aku harus menutup perasaan ini karena aku tak akan pernah bisa memilikinya.

Diari 7

“kakak”
“Kenapa Asti?”…
“Aku mau pindah kost aja!”
“”Lho ! kenapa?....kan kamu lebih enak disini”..
“aku mau ngerasain kost kak,aku capek kak jauh banget kampusku  lagian juga aku bisa ngirit ongkos kan?.aku bisa cari kost yang dekat kampus kak”..
“Ya udah, kalau alasan kamu itu memang menguntungkan buat kamu gak apa, tapi kakak minta satu hal sama kamu, yang bisa jaga diri kamu Cuma kamu sendiri, kakak disini hanya bisa mengingatkan dan memberi banyak pandangan buat kamu selebihnya kamu yang tahu mana yang terbaik buat kamu OK?”
“Iya kak”…

Rasanya ini adalah awal aku memulai langkah baruku dan mengubur harapan kosongku,tapi aku  harus memberikan kado kecil ini buat mas adi, bukankah kemaren saat mas adi berulang tahun aku belum memberinya selamat selamat.
Malam  ini aku mulai membenahi kamarku, kutata rapi barang barang yang akan kubawa ketempat baruku, ini kali pertamanya aku kost, dan mulai belajar mandiri mungkin aku akan bisa melupakan semuanya dan menyadari bahwa semua ini Cuma mimpi belaka, dan aku harus menutup jendela mimpiku karena ternyata ia terbuka bukan untukku.
Tak lama kakaku memnaggil
“Asti”…
“Ya kak”,aku bergegas turun menemui kakakku…
“Ada apa kak?”
“Adi di depan, mau ketemu kamu katanya”
Aku bingung harus bilang apa,tapi kuputuskan untuk tak  memberitahukan soal kepindahanku, aku tak ingin merusak malam ini dengan berita kepindahanku.
Karena malam ini mungkin terakhir aku bertemu dengannya, dan aku ingin memberikan kenangan yang indah pada malam ini, aku bergegas ke atas kembali mengambil kado kecil buatnya, dan kulihat mas adi sudah duduk diteras sambil memandang keluar yang saat itu turun hujan .
“Mas adi”, seperti biasa mukaku berseri seri saat melihatnya, walau kali ini hatiku tlah hancur namun aku masih bisa menyembunyikan perasaanku.
“Asti”..kenapa kamu gak jawab telpon aku, kamu sibuk ya?...
“Iya mas aku banyak tugas, ada apa mas koq tumben hujan hujan kerumah?”
“Aku mau memberikan khabar gembira asti”sorot matanya begitu tegas dan lebih belok dari biasanya belum lagi kedua alisnya naik begitu tingginya seolah menyuruhku menebak khabar apa itu.
“Gak tau mas”sambil menggelengkan kepala aku tambah bingung apa masalah dia dengan teman wanitanya kemarin ya..aku gak berani menjawab takut salah.
“Asti dengar…mas adi diterima kerja’…doa kamu dan doa aku dikabulkan Tuhan…
“Amieen….”Jawabku…
Mas adi mengerutkan keningnya seolah gak percaya dengan sikapku, wajahnya yang tadi penuh semangat berubahmenjadi penuh tanda Tanya.
“Kenapa asti..kamu sakit?..
“gak koq mas adi aku sehat koq Cuma aku  mau memberikan sesuatu”,sambil tersenyum kuberikan bingkisan kecil buatnya.
“Apa asti?’wajahnya tersenyum kembali
“Cuma Alquran kecil mas yang ada terjemahannya, maklum kantong anak kuliahan jadi Cuma bisa kasih itu aja”.
Mas adi terlihat terharu..
“Selamat Ulang Tahun ya mas aku gak bisa kasih apa apa Cuma ini aja, aku berharap  jangan dipandangin aja tapi digunakan buat ibadah ya?”saat itu kutahan air mata ini sekuat mungkin padahal dadaku sudah sesak sekali tapi aku tetap berusaha tersenyum.
“Mas adi memandangku lamaaa sekali, entah apa yang  ada dalam pikirannya, seolah ia merasakan sesuatu pada situasi ini, karena aku juga tau mas adi sama denganku…setiap apa yang aku rasakan ia pasti tau, begitupun aku, setiap apa yang ia rasakan aku selalu memahaminya hingga kami terasa saling membutuhkan walau kami tidak mengerti apa nama hubungan ini.
Aku segera membuat suasana menjadi seperti biasa kembali, hingga tak terasa kami larut dalam percakapan seperti hari hari kemarin,dan aku berhasil menyembunyikan apa yang akan kulakukan buat persahabatan ini.Maafkan aku mas adi karena aku harus meninggalkanmu, dan mungkin aku juga tak ingin menghubungimu lagi.
Walaupun aku tidak dapat memahami apa yang akan terjadi esok pada kita, namun aku telah memberikanmu jalan bagi langkah yang akan kau ambil,karena aku baru mengetahui kalau saat ini engkau sedang bertunangan dengan seseorang, mungkin dialah wanita beruntung itu, yang engkau pilih.Aku tak menyalahkan siapapun, karena ini adalah sesuatu yang memang harus terjadi, dan aku ingin segera menutup jendela mimpiku
.


Malam ini aku sudah berada di kamar yang baru kubuka Diari baruku dan tak ada kata kata lain yang kutulis,namun mengalir begitu saja hatiku mengatakan.  
"Tidak mudah buat menghilangkan rasa duka karena kehilangan, namun semua itu akan terasa indah disaat kita menyadari bahwa Tuhan telah meminjamkan kepada kita buat beberapa saat......".




By Retno